Jumat 3 Juli 2026 - 18:43
Syahadah dan Para Syuhada dalam Ucapan Sang Pemimpin Syuhada Republik Islam Iran

Hawzah/ Imam Syahid dalam sebagian pernyataannya memperkenalkan syahadah melampaui sekadar terbunuh di medan perang; yaitu hakikat yang lahir dari transaksi dengan Allah, menepati janji ilahi, dan membela nilai-nilai agama. Para syuhada adalah modal abadi revolusi, faktor kehormatan bangsa, penggerak pergerakan masyarakat, dan teladan keikhlasan, pengorbanan, perlawanan, serta kehidupan abadi.

Berita Hawzah  Pada hari-hari penyelenggaraan pemakaman jenazah suci Pemimpin Umat, Imam, Pemimpin para Syuhada Republik Islam Iran, Syahid Ayatullah al-Udzma Sayyid Ali Khamenei, peninjauan kembali landasan-landasan Al-Qur'an serta konsep pengetahuan tentang syahadah adalah hal yang sangat mendesak. Kumpulan pernyataan berikut ini menyajikan gambaran utuh tentang hakikat syahadah, kedudukan syuhada, budaya pengorbanan, misi mereka yang masih hidup, serta peran darah syuhada dalam kelangsungan kehormatan, kemerdekaan, dan keteguhan umat Islam menurut ucapan Rahbar Syahid.

Syahadah di jalan melayani rakyat adalah kehidupan abadi yang ilahi

Bagaimana seharusnya kita menyikapi musibah? Inilah yang penting. Saya sebelumnya akan membahas kehilangan besar ini (syahadahnya Presiden yang terhormat dan para pendampingnya) dengan menyinari nya melalui ayat yang mulia ini, di mana Allah berfirman: "Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang terbunuh di jalan Allah (bahwa mereka) itu mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya" (QS. Al-Baqarah: 154). Orang-orang yang terbunuh di jalan Allah, janganlah disebut mati; mereka itu hidup. Di sekitar ayat ini — baik sebelum maupun sesudah ayat ini — tidak ada pembahasan tentang gerakan militer, perang, pertempuran, dan semacamnya; [ayat ini menyebut] "fi sabilillah" (di jalan Allah). Tidak dapat diklaim bahwa makna "yuqtalu fi sabilillah" (terbunuh di jalan Allah) di sini adalah terbunuh di medan perang, karena tidak ada indikasi (qarinah) apa pun dalam ayat ini yang menunjukkan hal itu. Dalam ayat surat Ali 'Imran — "Wa la tahsabannalladzina qutilu..." (Dan janganlah sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang terbunuh di jalan Allah itu mati) — memang ayat itu berada dalam konteks pembahasan jihad; tetapi ayat ini (Al-Baqarah: 154) bersifat mutlak (umum); [firman-Nya] siapa pun yang terbunuh di jalan Allah. Jalan melayani rakyat adalah jalan Allah; jalan kerja jihad (pengorbanan sungguh-sungguh) untuk rakyat adalah jalan Allah; jalan mengelola negara Islam adalah jalan Allah; jalan memajukan sistem Republik Islam adalah jalan Allah. Almarhum tuan Raisi yang terhormat dan para pendampingnya, terbunuh di jalan memajukan negara, di jalan melayani rakyat, di jalan menjunjung tinggi Republik Islam, [maka] mereka termasuk dalam cakupan ayat ini; janganlah menganggap mereka mati; bal ahyaun; bahkan mereka itu hidup; sebagaimana ungkapan yang berlaku bagi para syuhada. 3 Juni, 2024 

Syahadah; Transaksi Jiwa dengan Tuhan sebagai Imbalan Surga Abadi

Tentang para syuhada, banyak sekali ucapan-ucapan yang sarat makna dan berharga dari para Imam Ma'sum (semoga salam tercurah atas mereka), kemudian juga dari para tokoh besar, tokoh-tokoh besar Revolusi, Imam Khomeini ra dan lainnya... [Akan tetapi] yang paling utama di antara semuanya adalah firman Allah swt dalam Al-Qur'an yang mulia tentang para syuhada, yang tidak dapat disamakan dengan pernyataan apa pun. Yaitu firman-Nya, "Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin jiwa dan harta mereka dengan (imbalan) surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka membunuh dan terbunuh." "Sesungguhnya Allah telah membeli" [artinya] Allah bertransaksi... Di mana posisi hamba, di mana posisi Tuhan! Namun, Allah bertransaksi! Dia menukar jiwa kita dengan hadiah terbesar yang dapat diberikan kepada seorang manusia, yaitu surga — surga yang penuh keridhoan Ilahi. Kemudian Dia menjelaskan dengan tegas, "mereka berperang di jalan Allah", hendaknya mereka pergi berjuang di jalan Allah, berperang, "lalu mereka membunuh dan terbunuh." Ini tidak khusus untuk masa Islam saja: sebagai janji yang benar dari-Nya di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur'an; di dalam Taurat pun demikian, di dalam Injil pun demikian. Ayat ini... — "Dan betapa banyak nabi yang berperang bersama mereka sejumlah besar pengikutnya yang setia" — [menunjukkan bahwa] perkara ini berlaku bagi semua nabi. Atau ayat mulia "Dan janganlah sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang terbunuh di jalan Allah itu mati; sebenarnya mereka itu hidup di sisi Tuhan mereka dan diberi rezeki"; Inilah pernyataan-pernyataan tentang para syuhada dan tentang keutamaan syahadah, tidak ada pernyataan yang lebih tinggi dari ini; apa lagi yang bisa dikatakan manusia? 23 Januari, 2024

Nama para syuhada mengandung tuntutan untuk tetap abadi dan hidup; artinya, sifat dari pengorbanan di jalan Allah adalah bahwa ia tetap ada di dunia:

فَاَمَّا الزَّبَدُ فَیَذهَبُ جُفاءً وَ اَمّا ما یَنفَعُ النّاسَ فَیَمکُثُ فِی الاَرض

"Adapun buih, maka ia akan hilang sebagai sesuatu yang tak berguna, sedangkan yang bermanfaat bagi manusia, maka ia akan tetap di bumi". Sifat dari syahadah, sifat dari pengorbanan di jalan Allah adalah bahwa secara alami ia akan kekal; ia tetap ada. Akan tetapi, ini tidak berarti bahwa jika faktor-faktor yang berlawanan memasuki medan pertempuran, mereka tidak akan berpengaruh; tentu saja bisa, seperti banyak nilai-nilai agung lainnya, ketika nilai-nilai kebalikan (anti-nilai) memasuki medan, para pendukung nilai tidak melakukan pertahanan yang diperlukan, dan kebatilan mengalahkan kebenaran; begitulah adanya. Lihatlah sepanjang sejarah; ada nabi-nabi, para wali, dan tokoh-tokoh terkemuka besar yang dikalahkan oleh kebatilan karena para pembawa kebenaran tidak melakukan apa yang menjadi tanggung jawab mereka. Artinya, para syuhada secara alami tetap abadi dan ada tuntutan keabadian pada diri mereka, akan tetapi kita juga memiliki kewajiban; kita harus menghidupkan nama para syuhada, kita harus menggunakan makna syahadah dan pesan para syuhada untuk menghiasi kehidupan kita dengan baik; kita memerlukan penataan kehidupan kolektif, dalam masyarakat kita sendiri dan dalam masyarakat global; dengan bantuan para syuhada dan jejak-jejak mereka, hal ini dapat dilakukan. 27 September, 2023

Syahadah; Membela Batas-Batas Keyakinan, Identitas, dan Nilai-Nilai Ilahi

Kita harus memahami makna syahadah dengan benar. Tentang makna syahadah [harus dipahami bahwa] syahadah bukan sekadar menjadi korban dalam peperangan. Di dunia ini banyak orang yang ikut serta dalam peperangan negaranya dan terbunuh; banyak di antara mereka, misalnya, melakukan hal itu untuk membela batas-batas geografis negaranya, sebagai seorang patriot dan pencinta tanah air — tentu saja sebagian dari mereka adalah tentara bayaran, tetapi sebagian lainnya [terbunuh] dengan motif seperti ini — syuhada kita tidak seperti itu; masalah pejuang kita yang memasuki medan perang dan akhirnya berujung pada syahadah atau cacat tubuh atau tidak, itu bukan sekadar membela batas geografis; dia memasuki medan perang untuk membela batas-batas keyakinan, batas-batas akhlak, batas-batas agama, batas-batas budaya, batas-batas identitas, untuk membela batas-batas spiritual yang penting ini; tentu saja membela batas-batas geografis negara juga merupakan hal yang berharga dan dianggap sebagai nilai; akan tetapi, di mana letak perbandingannya dengan menyatukan makna itu dengan makna-makna penting dan luhur ini! Inilah [hakikat] para syuhada kita.

Syahid; Penepati Janji Ilahi dan Pelaku Transaksi Jiwa dengan Allah

Jika kita ingin melihat lebih jauh lagi tentang persoalan syahadah, syahid kita sebenarnya merupakan manifestasi dan perwujudan dari firman Allah "Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin jiwa dan harta mereka dengan (imbalan) surga untuk mereka"; yaitu, ia sedang melakukan transaksi jiwanya dengan Allah; itulah syahid. Atau firman suci, "Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang telah menunaikan nazarnya, dan di antara mereka ada yang masih menunggu"; mereka bersikap jujur dan tulus terhadap janji mereka, ikrar mereka dengan Allah Yang Maha Tinggi; itulah syahid; yaitu mengikat janji dengan Allah, bertransaksi dengan Allah; oleh karena itu, engkau lihat bahwa pejuang di medan jihad fi sabilillah berbeda dengan pejuang-pejuang biasa di dunia. Di medan perang, bagi kalian yang pernah berada di sana dan melihatnya pada saat itu, pasti kalian menyaksikan, dan sebagian juga telah membaca dalam buku-buku, bahwa pejuang mukmin pada masa Pertahanan Suci (Perang Iran-Irak), demikian pula di beberapa lini pertahanan lainnya seperti pertahanan terhadap Haram suci atau semisalnya, ketika ia sedang berjuang di medan perang, keikhlasannya lebih besar daripada keadaan biasanya, tawakalnya lebih besar, kerendahan hatinya lebih besar, dan penjagaannya terhadap batas-batas ilahi lebih besar. 21 November, 2021

Syahadah; Penjamin Kelangsungan Sistem Islam dan Manifestasi Rahmat Ilahi

Persoalan para syuhada harus ditanggapi dengan sangat serius. Kita harus menganut nilai-nilai yang sama bagi para syuhada seperti yang diberikan oleh Allah Yang Maha Tinggi kepada mereka, yaitu [firman-Nya]: "Mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka membunuh dan terbunuh, sebagai janji yang benar dari-Nya di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur'an"; mereka yang berjuang di jalan Allah dan mempertaruhkan nyawa mereka, baik membunuh musuh maupun terbunuh, keduanya memiliki nilai; di sisi Allah Yang Maha Tinggi terdapat janji ilahi berupa rahmat bagi mereka. Adapun orang yang kehilangan nyawanya di jalan ini, dalam riwayat-riwayat kita dapati bahwa sebelum ia keluar dari dunia ini, ia telah menyaksikan tanda-tanda rahmat ilahi; yaitu dalam riwayat disebutkan bahwa seketika syahid itu jatuh dari kudanya — saat itu mereka berperang dengan kuda — sebelum ia mencapai tanah, janji ilahi telah ia terima; artinya, bahkan di dunia ini matanya terbuka dan ia melihat hakikat, serta merasakan dan menerima rahmat ilahi dan karunia Allah secara nyata; itulah nilai para syuhada. Jika tidak ada syahadah ini, jika tidak ada pengorbanan-pengorbanan ini, sistem (Islam) ini tidak akan bertahan; anakan pohon ini diterpa badai-badai dahsyat. Sebab sistem ini tetap bertahan dan anakan ini tidak binasa, dan alhamdulillah berubah menjadi pohon yang kokoh dan rindang, adalah karena pengorbanan-pengorbanan, keikhlasan, semangat syahadah, dan semangat memasuki medan perang; ini harus dijaga. Musuh harus dikenali, tipu daya musuh harus dikenali. 5 Desember, 2016

Para Syuhada Teror; Skandal Terorisme dan Keteguhan Bangsa Iran

Kita memiliki tujuh belas ribu syuhada akibat teror di negara ini; tujuh belas ribu syuhada teror! Apakah angka ini angka yang kecil? Apakah ini bahan lelucon? Mereka yang melakukan teror-teror ini, saat ini dengan bebas bergerak di negara-negara Barat. Teror ini, teror terhadap siapa? Teror terhadap pedagang, teror terhadap petani, teror terhadap ulama, teror terhadap profesor universitas, teror terhadap mukmin yang tekun beribadah, teror terhadap anak-anak, teror terhadap perempuan; tujuh belas ribu syuhada teror, telah tercatat dalam sejarah Revolusi Islam Iran. Nah, ini memiliki dua sisi: satu sisi adalah pembongkaran (fakta) terhadap tokoh-tokoh yang saat ini mengklaim anti-terorisme, dan ini adalah cermin di hadapan klaim palsu mereka, dan menunjukkan betapa mereka pembohong, betapa mereka penipu, betapa mereka jahat, betapa rendahnya mereka yang memberikan dukungan kepada teroris-teroris pembunuh ini; di sisi lain, mereka mengklaim bahwa mereka anti-terorisme dan menentang terorisme; ini satu sisi persoalan. Sisi lainnya adalah bahwa sebuah bangsa yang telah kehilangan tujuh belas ribu syuhada teror — selain para syuhada yang gugur dalam Perang Suci (Pertahanan) — tetap berdiri kokoh dalam pengabdian kepada revolusi, di jalan revolusi, dalam menghadapi musuh-musuh revolusi Islam. Keagungan revolusi ini, keagungan bangsa ini tampak dengan syahadah-syahadah ini. Ini adalah "Dan mereka bergembira dengan orang-orang yang belum menyusul mereka yang masih tinggal di belakang mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati", itu adalah kabar gembira; kabar gembira yang diberikan kepada bangsa Iran; kabar gembira yang diberikan kepada umat Islam. 27 Juni, 2015

Syahadah; Kehilangan Secara Lahiriah dan Kenaikan Abadi Menuju Kedekatan Ilahi

Terbunuhnya seseorang sebagai syahid, dari sudut pandang kami yang masih hidup di dunia ini, dan khususnya Anda yang berstatus sebagai ayah, ibu, atau istri syahid, - dan tentu saja kasih sayang Anda kepadanya adalah kasih sayang yang luar biasa - adalah sesuatu yang pahit; karena itu adalah kehilangan, itu adalah ketiadaan. Di permukaan kehidupan, ini adalah kehilangan; maka itu pahit. Kulit luar dari syahadah adalah ini; kehilangan dan ketiadaan serta tidak melihatnya lagi dan melihat kekosongan tempatnya. Akan tetapi, inti dari syahadah, jauh lebih tinggi daripada semua ini. Inti dari syahadah adalah bahwa seorang manusia, seorang insan, tiba-tiba memasuki derajat-derajat ilahi yang tinggi; kedudukannya melampaui para malaikat; dalam kehidupan yang sebenarnya, yang cepat atau lambat kita semua akan memasukinya setelah empat puluh tahun, lima puluh tahun, enam puluh tahun, tujuh puluh tahun, dan itulah kehidupan abadi, kedudukannya menjadi luhur, memiliki martabat yang tinggi, menjadi pusat perhatian, dan limpahan kebaikannya pada hari kiamat sampai kepada orang lain; "Cahaya mereka bersinar di hadapan mereka dan di samping kanan mereka." Di antara ciri-ciri hari kiamat adalah gelapnya suasana; karena tidak ada matahari, tidak ada sumber cahaya; seluruh umat manusia berada dalam keadaan kegelapan. Ketika hamba-hamba yang baik ini — yang di antara yang terbaik dari mereka adalah pemuda (anak) Anda ini — bergerak, cahaya mereka bersinar di hadapan mereka dan di sisi mereka. Ada orang lain yang pada hari kiamat memandang mereka dengan penuh penyesalan dan berkata, "Berikanlah kepada kami sebagian dari cahayamu" — mereka yang tidak layak menerima cahaya itu — maka mereka (para syuhada) menjawab: "Kembalilah ke belakang kalian, lalu carilah cahaya "; pergilah dan lihatlah ke belakang kalian — yaitu kehidupan duniawi kalian — jika kalian memang akan memiliki cahaya, perolehlah cahaya itu dari sana; di sini tidak ada yang akan diberikan cahaya kepada siapa pun. Ini adalah cahaya yang telah diberikan di sana (di dunia), dan kini muncul serta tampak di sini (di akhirat). Inilah dimensi kedua dari kepribadian pemuda Anda dan semua syuhada. 19 Januari, 2012

Budaya Pengorbanan dan Syahadah; Mesin Penggerak dan Kebangkitan Masyarakat

Persoalan syahid dan pengorbanan tidak akan pernah usang; ini adalah mesin penggerak masyarakat; sebagian orang lalai terhadap hal ini. Ketika Anda melihat sebagian orang dengan ucapan, tulisan, dan tindakan mereka, memandang pengorbanan dan syahadah dengan pandangan yang negatif dan tidak berterima kasih, itu disebabkan oleh kelalaian mereka; mereka tidak memahami betapa pentingnya menjaga kehormatan para syuhada dan para pejuang yang berkorban bagi suatu masyarakat, bangsa, dan negara. Lihatlah darah suci Husain bin Ali (as) yang tertumpah di tanah Karbala dalam keterasingan; namun tanggung jawab terbesar yang dipikul oleh Imam Sajjad (as) dan Zainab al-Kubra (sa), sejak saat pertama, adalah mengambil pesan ini dan menyebarkannya ke seluruh dunia Islam dalam berbagai bentuk. Gerakan ini untuk menghidupkan kembali agama yang sejati dan agama Husain bin Ali as serta tujuan yang diperjuangkan oleh Imam Husain as hingga ia gugur sebagai syahid, adalah suatu keharusan dan kebutuhan yang mendesak. Tentu saja pahala ilahi untuk Imam Husain as telah terjamin; mereka (para musuh) dapat membiarkannya dalam kesunyian (tanpa ada yang mengenangnya); tetapi mengapa Imam Sajjad (as) hingga akhir hayatnya — beliau hidup selama tiga puluh tahun setelah Imam Husain as — di setiap kesempatan mengangkat nama Husain, darah Husain, dan syahadah Aba Abdillah (Imam Husain), dan mengingatkan orang-orang akan hal itu? Upaya ini untuk apa? Sebagian orang mengira ini dilakukan untuk membalas dendam terhadap Bani Umayyah; padahal Bani Umayyah kemudian lenyap. Imam Ridha (as), yang hidup setelah masa Bani Abbas, mengapa beliau memerintahkan Rayyan bin Syabib untuk membacakan kisah musibah Aba Abdillah di tengah-tengah kalian? Pada masa itu Bani Umayyah sudah tidak ada lagi; mereka telah hancur berkeping-keping. Ini dilakukan karena jalan Husain bin Ali dan darahnya adalah panji dan bendera gerakan besar umat Islam menuju tujuan-tujuan Islam; bendera ini harus tetap tegak; hingga hari ini pun ia tetap tegak dan hingga hari ini pun ia telah membimbing (umat). 6 Juli, 2004

Syahadah; Keutamaan Tertinggi dan Puncak Pengorbanan di Jalan Allah

Di semua bangsa, yang paling mulia dan paling terhormat adalah orang yang berkorban. Di antara semua kaum dan bangsa di dunia, pemuda yang mempertaruhkan jiwanya di puncak usianya dan berkorban, adalah yang paling mulia. Di antara semua negara dan semua bangsa, keluarga yang mempersembahkan pemuda dan tunas yang subur (putra-putri terbaiknya) untuk cita-cita luhur bangsanya, adalah keluarga yang bangga dan terhormat. Ini tidak khusus untuk negara kita; akan tetapi ada satu hal yang khusus bagi negara kita, yaitu bahwa syahadah dan pengorbanan untuk cita-cita ini dianggap sebagai keutamaan agama yang paling menonjol, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis: "Di atas setiap kebaikan ada kebaikan (lainnya), hingga seseorang terbunuh di jalan Allah"; setiap kebaikan dan setiap amal baik yang Anda bayangkan, ada yang lebih tinggi darinya, hingga sampai pada terbunuhnya seseorang di jalan Allah, yang tidak ada amal di atasnya. Banyak orang selama bertahun-tahun di negara ini berusaha untuk menghilangkan jiwa pengorbanan, keberanian, dan sikap tidak mementingkan diri sendiri dari bangsa ini. 31 Agustus, 1999

Tagar

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha